Beberapa pendapat saya mengenai fasilitas komentar pada sebuah blog

Berkomentar ketika sedang blogwalking. Ya, saya yakin semua narablog pasti sering melakukannya, bahkan sampai berkali-kali memberikan komentar pada suatu tulisan/artikel tertentu. Dari beberapa komentar tersebut mungkin akan terjadi diskusi yang menarik, ada ide-ide baru yang bermunculan, sekedar saran semisal “info yang bagus” pun bisa bersarang. Tak ketinggalan komentar dengan nada meminta kunjungan balik, juga bisa nangkring dengan santainya.

Kenapa itu bisa terjadi? Ya mungkin saja. Ada beberapa hal yang membuat saya bisa mengetik tulisan ini, diantaranya:

  • Masih sering menemukan narablog yang berebut untuk mendapatkan pertamax, sah-sah saja kok tidak ada larangan ini. Kemungkinan akan terjadi pengulangan komentar jika setiap komentar harus dimoderasi terlebih dahulu oleh pemilik blog, karena si pengomentar ingin memastikan komentarnya apakah bisa pertamax atau tidak?
  • Pengaktifan komentar berulir (disarangkan), karena saking banyaknya, harus penuh konsentrasi untuk mengikuti alur diskusi. Jika masih suka bolak-balik menyetel fungsi tersebut, lihat sendiri pada tulisan yang lebih lama  – seperti pada tulisan lama saya.
  • Penulis tidak menjelaskan akan menanggapi atau tidak pada tulisannya, sehingga banyak penonton yang kecewa.
  • Beberapa perangkap Spam-er terpasang di area komentar, kadang menyulitkan untuk menyampaikan suatu pesan sampah.
  • Bagaimana jika suatu tulisan yang tidak menerima komentar? Silakan jawab sendiri.

Ah, apalagi ya? Perasaan kemarin ada banyak deh unek-unek yang akan saya tulis di sini, kok mentok sampai situ saja ya? Besuk kalau ingat, disambung lagi.

Sudah banyak narablog yang sudah menyampaikannya panjang lebar mengenai teori dan  teknis, bagaimana berkomentar yang baik . Untuk mendukung Aksesibilitas web bisa merujuk ke Pengomentar Blog Mendukung Aksesibilitas Web (Dani Iswara .com).  Ada yang mau menambahkan lagi?

Sebentar lagi bulan puasa, Selamat menunaikan ibadah puasa.

Merdeka!!!

38 thoughts on “Beberapa pendapat saya mengenai fasilitas komentar pada sebuah blog

  1. Cahya

    Yang penting tidak terlalu ramai saja, tidak masalah sih, masih bisa ditelusuri dan dimoderasi dengan baik oleh pemilik blog.

    Mungkin itu juga perlunya sistem rating atau semacam facebook like pada sebuah halaman blog, jadi yang tidak akan berkomentar hanya memberikan penilaian saja lewat tombol satu kali klik.

  2. agung

    Cahya,
    Yah, kasihan juga pemilik blog sekaliber artis yang dibanjiri pengunjungnya, pasti akan sibuk sekali untuk sekedar memberi tanda tangan dan menyapa kembali :D.

    Sistem rating atau semacam facebook like, tidak bisa dipasang di blog gratisan seperti ini khan? Ah, saya lebih suka ngomel-ngomel dari pada sekedar klik “suka ini”.

  3. Cahya

    Hmm…, untungnya saya bukan artis populer :D.

    Kalau sistem rating, baik blogger.com ataupun wp.com sudah punya sendiri kok, kalau publikasi lewat WLW ada pluginnya tersendiri :D.

  4. dani

    Terima kasih apresiasinya.
    Terkait kolom komentar, yang masih bisa dibahas itu misalnya fitur emotikon, langganan komentar via surel, tata bahasa, komentar ditujukan ke siapa, keterbatasan pemakaian sintaks/markah di tiap mesin blog, dll. :)

  5. agung

    Mas Dani,
    Waduh!! Saya ndak bisa menanggapi komentar Mas Dani nih :(.

    Sepertinya harus didiskusikan satu persatu lagi mas Dani, pastinya masih ada yang menarik untuk dibicarakan. Sebagai pemula, nanti saya ikut mensosialisasikannya (tentunya sebatas kemampuan saya) :D.

  6. iskandaria

    Tulisannya mungkin bisa lebih difokuskan lagi mas. Kalau kayak di atas masih campur aduk :) Tapi tidak mengapa kalau sekadar ingin menguraikan hal-hal yang ditemui. Masalah komentar di blog memang cukup sering dibahas. Kadang masih menarik untuk dijadikan ajang diskusi, sepanjang punya fokus pembahasan yang baru atau masih jarang dikupas.

  7. agung

    Mas Iskandaria,
    Terima kasih sudah berkunjung.
    Iya, saya masih belum bisa menulis dengan baik, masih sering menulis seadanya. Betul mas, itu sebagian yang unek-unek saya — menguraikan hal-hal yang saya temui.

    Wah, masukan yang bagus mas :D.

  8. Rudy Azhar

    Sudah sering saya jelaskan kalau saya pindah dari blogger ke Wodpress alasan utamanya karena kotak komentar yang bisa dibuat bersarang, jadi saya buat begitu pada blog saya.
    Memang saya batasi sampai 3 step saja, tapi masih juga ada pengkomentar yang nyisip sana-sini & membuat saya sedikit bingung…he..he..he….

    Untuk setiap komentar yang tidak perlu ditanggapi saya tidak akan membalas komentar tersebut.

    Kalau emoticon pada komentar saya masih butuh, karena tidak semua narablog ngerti menulis kode-kode emoticon sendiri, tapi pada Kaskus Emoticon saya hanya menyediakan yang kecil-kecil saya timbang tidak ada sama sekali….. :D

  9. ismail

    Biasanya orang yang seperti itu menginginkan :

    a. Kunjungan balik
    b. Menempelkan link blog/webnya
    c. Cari perhatian pemilik blog
    d. Biasanya g mbaca dulu tapi langsung koment..

  10. agung

    Mas Rudy Azhar,
    Menurut saya pribadi, kadang ada untungnya juga menyetel fungsi reply pada kolom komentar, kita bisa langsung membalas komentar pengunjung tanpa harus menulis indentitas pengunjung, coba jika komentar tanpa moderasi, masuk banyak sekali dan ‘maksa’ minta balasan, kewalahan juga mau membalas satu persatu.

    Kaskus Emoticon dengan bentuk yang besar, kadang bisa merusak paragraf komentar.

    ismail,
    a dan b, saya pernah melakukannya :D.
    c — ndak ah
    d! saya berusaha memahami tulisan semampu saya terlebih dahulu.

    Bro ganda,
    Dilarang Pertamax hehe…
    Ah ya, sepertinya Windows 98 masih ada di salah satu komputer rekan kerja saya :lol:.

  11. ArdianZzZ

    Kemarin gagal install Chirrup! sepertinya gara-gara programnya yang buggy. huh!
    Apa itu chirrup? Kita menggunakan twitter sebagai kotak komentar. Memang terdengar aneh tetapi kita tidak perlu takut jika harus menampung 1000 komentar sekalipun! haha… cocok untuk artis!

  12. ipul

    saya biasanya jarang membaca commentar lain, biasanya abis baca tulisannya, saya langsung komen, kecuali saya bingung.ehhehe. Terus saya males untuk coment di blog yang menggunakan blogspot.com, kalo pake komputer sih aman2 aja, tapi kalo pake HP itu yang bikin males

  13. agung

    cidtux,
    Saya juga hanya seorang drafter je hehe…

    ArdianZZZ,
    Wedew, sekarang sudah pasang /bisa nge-tweet nih. Chirrup? Apa lagi itu, nanti saja mencari apa itu Chirrup. Kalau begitu saya harus bisa mendapatkan foto plus tapak asmo dari mas Ardian nih :D.

    Ganda,
    Seksi identik dengan yang minim-minim (seperti yang di iklan), tapi Windows 2000 lebih manis :p.

    Cahya,
    Kangen itu obatnya kudu ketemu (kalau ndak salah) hehe :D.

    Mas Ipul,
    Kalau tulisan di sini membingungkan, tinggalkan saja mas hehe :D.
    Ah ya, saya malah belum pernah berkomentar di Blogspot[dot]com menggunakan ponsel, biasa jika menggunakan ponsel sulit untuk berkomentar, saya akan menyempatkan ke monitor (Personal Computer) untuk meninggalkan komentar.

  14. dani

    Mas Agung,
    Dulu pernah saya tulis tentang mengikuti diskusi komentar jika berlangganan via surel. Sulit mencerna alur diskusi jika tidak memakai cara menjawab yang baik. Seperti pelajaran bahasa Indonesia dulu. Ulangi sedikit kalimat pertanyaan, baru jawab.

    Jika tidak demikian, saat membaca komentar baru via surel, saya kebingungan & bertanya-tanya: komentar itu menjawab pertanyaan apa/siapa? :)

  15. agung

    Cahya,
    wah iya [OOT lagi], saya akan mulai kurangi Out off Topic ah. Sekarang sudah zaman serba canggih Notebook dengan memori (RAM) 4Gb, seperti punya situ, mending dual boot Green Gecko saja daripada Windows 98 hehe :D.

    Mas Dani,
    Saya juga sudah baca tulisan tentang Alur Diskusi Blog via Surel, tapi saya masih jarang berlangganan dan belum bisa mengoptimalkan fasilitas surel tersebut, jadi ya masih manual. Mungkin yang baru bisa saya cerna pemakaian tanda ‘@’ ini dulu mas.
    Ah ya, pengulangan kalimat pertanyaan sering terlupakan, terima kasih sudah mengingatkan mas.

    Meskipun alat komunikasi sudah modern, ternyata masih bisa putus di tengah jalan ya :D.

  16. dani

    Mas Agung,
    Tadi saya diberi tahu Cahya bahwa sistem komentar WordPress.com yang terkini, jika dilanggan via surel, sudah otomatis mencantumkan pertanyaan sebelumnya sebagai kuotasi. :)

  17. rusydi

    Wah kalau saya masih menggunakan komentar berulir dengan alasan kemudahan membalas komentar.
    Di samping itu, theme yang saya pakai tidak mendukung plugin quote-comment.

  18. agung

    Mas Dani,
    Terima kasih untuk informasinya, nanti akan saya cari dan baca-baca dulu :D.

    Mas Rusydi,
    Komentar bersarang memang memudahkan bagi kita untuk membalas komentar, baik dari sisi admin maupun pengguna lainnya, tapi menurut saya, yang masih sering ganti-ganti tema/pemilihan komentar berulir di WordPress.com maka alur komentar akan/bisa terlihat aneh — seperti yang di jelaskan pada tulisan Mas Dani diatas (poin No.2).
    Penulisan kuotasi di kolom komentar, sepertinya bisa ditulis dengan markah (X)HTML. cmiiw :D.

  19. Aldy

    Buat saya sih yang penting antara pengomentar dengan admin bisa nyambung, nggak neko-neko amat, ribet juga kalau terlalu banyak ketentuan yang berlaku :D
    Sampai pada kondisi tertentu komentar blog ditutup manual.

  20. agung

    Pak Aldy,
    tidak ribet, agar pembaca bisa tetap mengikuti alur interaksi lewat menyimak isi komentar satu per satu. Menurut saya (pemula) kadang komentar berulir, histori mengenai komentar terbaru/terlama, akan agak kesulitan ditemukan oleh pengguna non admin.
    Yah, semua kembalikan ke selera masing-masing narablog saja pak :D.

  21. Cahya

    Mas Agung,

    Saya pakai komentar bergalur lho (bukan berulir/bersarang), namun tetap dengan sistem flat via sistem komentar pihak ketiga. Tidak ada masalah menemukan silogisme urutan waktu/histori, dan tidak ada masalah dengan mencari diskusi dan melacaknya balik.

    Kalau di tempat lain berulir hanya bisa sampai 5-7 sebelum menghancurkan tampilan blog, saya menemukan di sistem yang saya terapkan, galur komentar bisa tercipta hingga… (ha ha…, belum sempat menghitung batasan)… mungkin sampai jatah hosting saya penuh tanpa merusak tampilannya :D.

  22. dani

    Cahya, Mas Agung,
    Bisa ngga ya kuotasi otomatis saat menerima balasan komentar via surel itu tidak dimunculkan jika kolom komentar tidak mengaktifkan ‘threaded comment’?
    Karena, seperti yang Cahya sampaikan di tulisannya Mas Iskandaria (kafegue.com), dan yang saya terima via surel, tiap balasan komentar di tulisannya Mas Agung ini selalu menyertakan kuotasi konten, bukan kutipan komentar sebelumnya.
    Sedangkan para pengomentar belum terbiasa memakai struktur yang aksesibel.

  23. agung

    Mas Cahya,
    waduh saya malah kurang tahu bedanya antara bergalur dengan berulir/bersarang, yang saya tahu kalau berulir/bersarang itu yang tidak flat. Yah, DISQUS memang bagus, tapi kita lihat saja bisa bertahan lama ndak nih? :p

    Lagi-lagi saya harus sedikit protes mengenai peranan dari pihak ketiga ini (DISQUS), waktu muat untuk memunculkan semua komentar agak sedikit lambat :p.
    Ah ya, ukuran font tambahin sedikit dong?

    Mas Dani,
    kuotasi otomatis saat menerima balasan via surel tanpa mengaktifkan fitur replay? wah kalau bisa, bisa jarang buka halaman weblog dong :D, TAPI saya kurang tahu mas Dani, bisa atau tidaknya?

    di surel, saya juga hanya merima kuotasi konten berupa ‘judul saja’ dari tulisan saya ini — tanpa mengaktifkan ‘treaded comment’. Seperti yang di utarakan mas Cahya (di kafegue.com), kuotasi hanya disertakan dalam notifkasi jika fitur replay di WordPress.com diaktifkan. Tanpa fitur reply, kuotasi adalah dari konten blog.
    Manual menurut saya malah lebih membantu dalam berdisiplin berbahasa dan ruang 3Gb di blog gratisan, saya rasa cukup hehe :D.

  24. Cahya

    Mas Agung,

    Saya sedang memberikan masukkan untuk tim Disqus masalah peramban telepon, karena mereka sedang mencoba menerapkan sistem komentar yang ramah di telepon, tapi baru mendukung baik untuk merk terkenal seperti dengan basis iPhone atau Androids.

    Loading melambat? Ha ha…, nanti kalau kecepetan, tulisan saya ndak dibaca dong. Jadi sambil baca dan menikmati konten, monggo ditunggu dulu sistem komentarnya lewat, ini kan seperti layanan restorean bintang 5, he he… :D

    Font-nya bentar dulu, saya belum sempat lihat sistem CSS-nya.

  25. agung

    Mas Cahya,
    yah, semoga Disqus menjadi lebih baik lagi, termasuk bisa mendukung ponsel jadul saya.

    Kalau saat datang pertama kali sih gak apa-apa, menikmati konten sembari menunggu pesanan datang, jika akan datang dan protes kembali. Hayo! he he… :D

  26. aldy

    @Mas Agung,
    Mas Cahya pecinta Disqus sekaligus merangkap tim advokasi. Wajar kalau dia bela-belain Disqus, padahal default theme yang digunakannya sudah mendukung komentar bersarang :D

  27. agung

    Pak Aldy, Mas Cahya,
    sambil menunggu kabar dari Disqus, saya ketik manual saja di blog gratisan ini — sebelum menjadi artis nantinya he he… :D

  28. agung

    javac,
    Saya pribadi belum pernah memasang pelbagai plugin untuk sistem komentar (karena masih ‘ngeblog’ di tempat gratisan). :D

    Fitur bawaan dari wordpress sudah mendukung sistem komentar bersarang, tergantung tema yang digunakan.
    Coba cari-cari di WordPress.org

Silakan tambahkan komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s