Welcome to Jakarta

Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi), sebagian besar orang pasti tahu daerah Jabodetabek jika sudah/tinggal di salah satu daerah tersebut. Ibukota Jakarta boleh dibilang mempunyai daya tarik tersendiri (pendapat pribadi.red) bagi masyarakat non jakarta yang ingin mencari mata pencaharian. Tidak salah lagi menurut penglihatan saya, Ibukota jakarta sudah penuh dengan pernak-perniknya, semua ruas jalan raya berisi/terdapat berbagai merk mobil dan sepeda motor, mulai dari keluaran terbaru sampai buatan jaman dahulu, bangunan pencakar langit berlomba-lomba dengan cepatnya dan masih banyak lagi sudut pandang dari Ibukota Jakarta ini, saya ndak bisa menyebut satu persatu. Saya bukan wartawan hehe :)

Kurang lebih enam tahun yang lalu, kali kedua saya merumput di Jakarta. Tentu saja berbeda dengan saat pertama kali saya datang ke Jakarta, saat itu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar – boleh dibilang tamasya atau piknik ke tempat-tempat wisata yang ada di jakarta. Kembali ke enam tahun yang lalu, bersama lima orang teman saya dengan maksud dan tujuan yang sama, yaitu untuk bekerja di Jakarta. Saya dan teman-teman boleh dibilang lebih beruntung, kita tidak lagi harus kesana-kemari untuk mencari pekerjaan, alhamdulillah ada perusahaan yang sudah merekrut kita dari sekolah yang ada di kampung tempat kita mencari ilmu. Makanya kita disuruh datang ke jakarta untuk bergabung di perusahaan tersebut. Meskipun diantara kita ada yang mempunyai saudara di Jakarta termasuk saya, perasaan campur aduk pun menyelimuti kami.

Waktu berjalan tanpa kompromi, hari-hari pun berjalan dengan sendirinya dan kita mencoba menyesuaikan dengan lingkungan sekitar (hal-hal yang positif). Sedikit cerita yang cukup menggelitik bagi saya pribadi, saat itu seperti biasa kita berangkat kerja – masih menjadi status karyawan magang (masa pelatihan), dompet saya ketinggalan di kost-kost-an, jam masuk kerja sudah tinggal dalam hitungan menit yang tidak mungkin dapat saya tempuh dengan jalan kaki agar tidak terlambat saat absensi masuk.

Naiklah motor ojek sebagai alternatif yang jitu, pulang sebentar dan berangkat ke tempat kerja pun tidak jadi terlambat, inipun kali pertama saya naik ojek, saatnya bayar ongkos naik ojeknya “berapa pak?” jawab dengan khas logat jawa saya, “goceng aja” jawab tukang ojek. Dengar kata goceng pun saya bingung campur ingin buru-buru masuk ke tempat kerja – dasar orang kampung, tak kasih saja sepuluh ribu dan anehnya saat itu saya ndak bisa/sempat menanyakan goceng itu berapa, pikirku saat itu goceng itu ya sepuluh ribu. Tukang ojek pun kalau saya lihat kayaknya sempat berfikir “nih anak tahu gak sih goceng tuh berapa? Karena saya juga kurang yakin kalau goceng itu sepeluh ribu, saya juga sempat menunggu sebentar berharap dapat kembalian. Tukang ojek pun juga bengong kali kok melihat muka kampung saya, dikasihlah kembalian lima ribu pada saya dan tanpa pikir panjang langsung kusambar saja. Setelah bergabung dengan teman-teman pun saya menceritakan kejadian tadi, meraka serentak langsung menertawakan saya “masak goceng saja ndak tahu” begitu ledekan dari mereka. Dan ini berlarut-larut menjadi bahan ledekan buat diceritakan ke teman yang lainya lagi. :(

Ah, sudahlah cerita ndak mutu-nya, kembali lagi ke cerita kenapa Jakarta menjadi magnet tersendiri bagi masyarakat dari luar jakarta. Dan tidak dipungkuri setiap tahunnya warga jakarta semakin meningkat (tanpa riset hanya pengamatan saya sendiri lho), sehabis libur lebaran dipastikan beberapa orang yang kembali lagi ke Ibukota atau ke daerah jabodetabek pun jumlahnya bertambah, entah itu membawa saudara, teman, tetangga dan berharap bisa mengadu nasib di kota baru. Masih banyak cerita tentang bagaimana datangnya para calon penghuni/warga jakarta. Baiklah bagi pendatang baru marilah kita bekerja keras mencari peluang terbaik dan jangan lupa selalu berdoa. Kita bukan hidup di alam rencana atau angan-angan, TAPI hidup kita sudah dimulai sejak dahulu, maka LAKUKANLAH yang terbaik kawan (sedikit mengutip statement dari Pak Mario Teguh) hehe :)

Referensi: pengamatan pribadi saja :)

30 thoughts on “Welcome to Jakarta

  1. Cahya

    Saya tidak pernah beruntung dengan ibu kota Jakarta, naik pesawat selalu tertunda, naik kereta tidak pernah nyaman, lalu lintas yang macet, udara yang menyesakkan dada. Ah, semua itu membuat saya harus berpikir berulang kali datang ke ibu kota Jakarta.

    Jika orang bilang Jakarta adalah magnet, saya tidak melihat daya tariknya, justru membuat saya menjauh saja.

  2. agung

    Mas Cahya,
    Ya, meskipun sekarang saya sudah tinggal di pinggiran Jakarta namun sesekali ke Ibukota harus mengikuti/melalui arus lalu lintas yang benar-benar padat merayap, bahkan macet total sekalipun :(

    Mungkin hanya beberapa orang saja yang tertarik dengan decak kagum kehidupan di Jakarta Mas Cahya, hehe.

  3. wawan

    haduww.. pengen pulang ae aku!hehehe
    back to jogjakarta yang damai and nyaman.

    Perjalanan di jakarta bikin naik darah beneran, mau pagi, siang, sore.. ehm mesti ada-ada aja+ kerjaan yang gak menjanjikan gini!
    malah membuat repot keluarga aja.

  4. agung

    wawan,
    haha, itulah jakarta bro…
    aku juga pengin kerja di jogja kalau bisa, atau di klaten sekalian.

    ya, harus membiasakan dengan suasana seperti itu, macet dimana-mana.
    cukup sabar dan tunggu peluang terbaik dulu :)

  5. agung

    Rudy Azhar,
    Terima kasih sudah berkunjung. Jakarta menurut pengamatan saya, semakin ruwet saja lalu lintasnya, apalagi saat diguyur hujan pasti kamacetan tersiar dimana-mana, di radio dan stasiun TV :(.

  6. agung

    #gadgetboi,
    ndak ada yang nyuruh, inisiatif sendiri hehe :).

    #PF,
    Untungnya saya lebih sering di pinggiran Jakarta pak, jadi masih bisa menghirup udara segar :).

    #ardianzzz,
    Kalau di dekat rumah sudah nyaman, kesini sesekali saja, maian tornado di DUFAN haha (ikut promosi) haha…
    Wah pemandian Jolotundo, tempat berenang yang asyik — untuk mengademkan kepala sesudah menyelesaikan Ujian semesteran kala SMK dulu :).

  7. Sugeng

    Kalau disuruh hidup di Jakarta aku pasti akan menolaknya, tapi kenapa orang2 selalu tertarik untuk pergi ke Jakarta ya :?: :???:
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  8. Aldy

    Jakarta, sebagai tempat persinggahan cukup enak. cuma sering apes (seperti mas cahya), beberapa waktu yang lalu, hanya numpang lewat saja harus nunggu 4 jam dibandara :(

  9. agung

    #Pak Sugeng,
    Katanya, di Jakarta apa saja bisa jadi duit hehe :).

    #Pak Aldy,
    Wah saya juga kurang tahu pak, strategi atau kendala yang terjadi di bandara, kok sampai tertunda 4 jam seperti itu.

  10. agung

    #Pakde Munawir — Ciwir,
    Aku malah pengin liburan ne kampung wae pakde :D.

    #ganda,
    Pasti itu orang kampung yang baru tiba di Jakarta, seperti saya wkwkwk…

  11. agung

    ganda,
    Andaikata memang sopir bajaj-nya orang Jakarta, berarti dia cinta sekali akan bahasa Indonesia sehingga sampai tidak tahu istilah “goceng”.
    Sopir bukan “supir” — Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring, sedang sedikit belajar tentang ejaan yang benar hehe :D.

  12. Harry

    Sekali-sekali silahkan main ke Jakarta, mumpung masih jadi ibukota. Begitu mas Agung khan ? Siapa sangka jika tahun 2033 nanti, menyebut nama kota Jakarta benar-benar tidak ada bedanya dengan menyebut Brangkalan, Klaten.

  13. ganda

    Agung,
    Hahahaha… Mungkin juga. Atau mungkin kurang pergaulan supir bajaj nya. :D Namanya juga terbawa logat ‘batak’ :D bro. Harap maklum. :D Sekali supir ya tetap supir. Hidup supir!! Merdeka! Hahahahaha…

  14. agung

    #Pakde Harry,
    Kurang lebih seperti itu, 7 dari 10 orang yang tinggal di Pulau Jawa pasti punya keinginan/mau mendekat dengan hiruk-pikuk kota Jakarta — ini pendapat pribadi :D.
    Wah saya malah ingin pensiun dini pakde, kembali dan membuka usaha di kampung Klaten saja, pasti menyenangkan.

    #ganda,
    Kalau sopir Metromini tuh banyak orang batak-nya, pokoknya ndak ada yang mau diline-up belakang — pada berebut penumpang :X. Di tempat kerjaku kalau ingin keluar kantor, malah suka bilang “nanti driver-nya siapa?”

    Merdeka!!!

  15. ganda

    Bro Agung,
    Hahaha.. Ya, saya pernah kenal beberapa dari mereka. :D Ternyata orang Batak. :D Berarti lebih ‘gaul’ lagi dengan menggunakan bahasa Inggris ya. :D

    Merdeka!!!

  16. rismaka

    Wellcome to the wild world bro…
    Kata orang, ibukota memang kejam, tapi rismaka.NET jauh lebih kejam wkwkwkw…

    Bercanda mas. Ini komen tidak penting. ga usah berkunjung balik pula :mrgreen:

  17. agung

    Mas Kharisma Adi M — rismaka,
    Oleh karena itu meskipun saya sering berkunjung di rismaka[dot]net masih takut untuk meninggalkan komentar karena saking kejamnya hehe :D.

    Jakarta memang kejam tapi masih bisa dijinakkan khan? :mrgreen:

  18. KareemDenton

    When someone writes an article he/she maintains the idea of a user in his/her brain that how a user can know it. So thats why this piece of writing is outstdanding. Thanks!

  19. cash advances

    hello!,I love your writing so a lot! percentage we keep in touch more approximately your
    post on AOL? I need an expert on this house to resolve my problem.
    Maybe that is you! Looking ahead to see you.

Silakan tambahkan komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s